Asep
S

Selain memiliki kekasih rupawan, tidak banyak yang bisa Asep banggakan tentang dirinya. Walaupun namanya Asep, yang menurut ibunya kependekan dari kata kasep yang berarti tampan, wajahnya jauh dari sekedar lumayan. Selain tidak rupawan, Asep juga tidak pintar, dulu nilai sekolahnya selalu kurang, banyak orang bilang kalau Asep bisa naik kelas hanya karena wali kelasnya malas untuk kembali berurusan dengan dia. Selepas lulus sekolah Asep mencoba mencari pekerjaan namun rupanya sulit sekali baginya untuk mendapat pekerjaan, kalaupun dapat biasanya hanya bertahan seumur jagung. Dari mulai jadi kernet bis kota, kuli panggul beras, tukang parkir di mini market, sampai jadi hansip dadakan untuk resepsi pernikahan. Semuanya tidak bertahan lama, biasanya dia diberhentikan karena terlalu bodoh. ceroboh ataupun dinilai terlalu malas.

Kombinasi jelek, bodoh, miskin, dan sangat malas menjadikan Asep sebagai bahan tertawaan warga kampung. Saking jeleknya ada yang bilang bahwa dia sebetulnya taik yang keluar melalui lubang yang salah, mengingat lubang taik dan lubang keluar Asep hanya berjarak beberapa centi meter saja. Sering kali dia merasa kesal dengan semua ejekan tersebut, namun apa mau dikata, semua yang dikatakan orang-orang memang betul adanya, tidak ada yang bisa dilakukannya untuk membela diri. Kalau sudah begitu Asep hanya bisa diam dan mengutuk diri. Sering kali dia berfikir bahwa mungkin hanya ketika dia sudah mati dia bisa tenang tanpa mendapatan ejekan dari orang-orang.

Tapi semua berubah ketika dia mulai berpacaran dengan Euis, bunga desa anak pak Lurah yang entah kenapa dengan mudah menerima ajakan Asep untuk menjadi kekasihnya setelah beberapa kali dikirimi puisi. Banyak orang awalnya tidak percaya dan menyangka kalau Asep mengggunakan ajian pelet, ada juga yang berpendapat kalau Euis itu jauh lebih bodoh dari pada Asep, atau Euis hanya menjalankan ritual buang sial dengan memacari orang paling jelek di kampungnya.

Tapi layaknya orang yang sedang dimabuk asmara, Asep tidak pernah menghiraukan apa kata orang. Dia pun merasa menjadi orang yang paling keren di kampungnya. Jika kebetulan dia dan kekasihnya berjalan melewati kerumunan orang, maka dengan sengaja dia akan merangkul kekasihnya itu. Seakan untuk menegaskan bahwa Euis sang bunga desa adalah kekasihnya. Diapun tidak segan-segan menceritakan ke banyak orang tentang bagaimana Euis mencintai dia dengan tulus dan apa adanya. Lambat laun orang-orang mulai berhenti menghinanya. Mereka mulai menghargainya dan berpikir bahwa tidak semua yang ada dalam diri Asep itu buruk, buktinya anak Pak Lurah mau berpacaran dengan Asep.

Keadaan itu berjalan beberapa minggu sampai suatu pagi nasib buruk kembali menyapa Asep. Pagi itu Euis tiba tiba mengajaknya bertemu, kangen katanya. Sambil makan bubur ayam ditemani segelas teh aroma melati, Euis pun tiba-tiba berkata

“Asep, sayang-Ku, aku ingin putus.”

Asep hanya bisa terdiam karena kaget, hatinya belum terasa sakit, mungkin karena dia masih mencerna apa yang terjadi saat itu. Dia mencoba mengingat-ingat apa yang salah, rasanya dia tidak berbuat salah pagi ini, atau semalam, atau bahkan hari-hari sebelumnya. Dengan wajah yang masih bingung Asep pun akhirnya menjawab

“Kenapa? Bukankah kita saling mencintai?”

“Iya kita saling mencintai, tapi masalahnya saya jatuh cinta lagi.”

“Memangnya orang itu lebih baik dari saya,” kata Asep coba mencari tahu lebih lanjut.

“Ini bukan masalah siapa yang lebih baik, tapi kalau aku benar-benar mencintai kamu, aku seharusnya tidak pernah jatuh cinta lagi dengan orang lain,” jawab Euis yang saat itu sudah berurai air mata.

Mendengar jawaban tersebut Asep hanya bisa diam. Rasa sakit mulai terasa di hatinya, sambil berusaha untuk mencerna dia pun melangkah pulang.

Di kamar yang hanya sedikit lebih luas dari pada WC Umum, rasa sakitnya semakin menjadi sampai akhirnya Asep memutuskan untuk bunuh diri. Komplikasi antara patah hati dan tidak tahan membayangkan ejekan orang-orang membuatnya tidak ragu untuk bunuh diri, setidaknya kalau mati tidak akan ada lagi yang akan menghina dia. Begitu pikirnya. Awalnya dia berniat menggantung dirinya dengan seprai, namun dia urungkan karena selain langit-langit kamarnya tidak cukup tinggi dan kokoh ia juga tidak mau kelak menjadi mayat berleher panjang sehingga ukuran liang lahat standar menjadi tidak cukup untuknya. Masih bagus kalau penggali mau membuatkan liang yang lebih panjang, tapi kalau mereka tidak mau dan akhirnya melipat lehernya agar muat kedalam liang tersebut, tentu akan sangat tidak nyaman bagi dia untuk menghabiskan waktu di liang lahat dengan leher terlipat.

Ada berbagai cara lain yang terlintas di kepalanya dari mulai memotong pergelangan tangan, loncat dari jembatan penyebrangan, membakar diri, sampai membiarkan dirinya terlindas kereta api, namun atas pertimbangan tidak ingin menjadi mayat cacat dan terlihat lebih buruk rupa dari pada saat dia hidup, Asep tidak memilih semua opsi tersebut.

Hingga akhirnya dia memutuskan untuk meminum sisa obat serangga yang ia temukan di kolong lemari, selain tidak perlu keluar uang untuk modal, menurutnya meminum obat serangga tidak akan membuat dia menjadi lebih jelek dari pada sekarang. Tanpa ragu Asep pun meminum habis sisa obat serangga tersebut. Beberapa menit kemudian efeknya mulai terasa, tubuhnya terasa panas seperti terbakar, dadanya sesak, dan matanya semakin berkunang-kunang, hingga akhirnya dia tidak sadarkan diri. Beberapa jam kemudian tubuh Asep ditemukan oleh ibunya yang langsung menangis histeris sehingga memancing kedatangan warga. Asep ditemukan mati dengan tubuh gosong, dan mulut mengeluarkan busa.
Tepat sehari setelah ditemukan tak bernyawa, Asep tiba di sebuah pemakaman umum bernama Sirna Raga. Pemakaman yang dinamai warga melalui logika sederhana. Tempat dimana manusia akhirnya kehilangan raga setelah berbulan bulan berjuang melawan semut dan cacing tanah. Sebuah pemakaman umum dipinggiran kota Bandung. Umum yang berarti semua golongan ada di sana, dari mulai pemuka agama sampai mucikari, dari mulai polisi, tentara sampai maling dan copet semua ada di Sirna Raga. Hanya koruptor saja yang tidak ada. Konon koruptor yang mati biasanya dimakamkan di tempat yang jauh lebih elit.

Di tengah terik matahari yang entah kenapa sedang sombong-sombongnya bersinar, dia dibawa dengan keranda yang dengan susah payah diangkut oleh enam orang yang kebetulan sedang berpuasa. Diiringi dengan suara tahlil dan tentu saja keluh kesah para pengangkut keranda, Asep pun dimakamkan dengan ritual seadanya.

Tidak perlu lama bagi Asep untuk mendapatkan teman baru. Tepat ketika para pengantar mulai beranjak pergi, para penghuni Sirna Raga mulai menghampiri Asep yang sedang duduk termenung diatas kuburan bertabur bunga yang masih wangi itu.

“Hei gosong, Kau mati kenapa?” Tanya seorang mayat yang konon dulunya seorang pembunuh yang tewas dieksekusi polisi

“Saya mati bunuh diri Bang,” kata Asep pelan.

“Bunuh diri dengan apa sampai gosong begitu?”

“Saya minum obat serangga Bang.”

“Hahaha, kasian sekali kau, sudah mati jadi gosong pula mayatmu.”

“Memangnya ada apa sampai kau bunuh diri?, kau pikir mati itu enak?” tanya roh yang lain.

“Saya mati karena patah hati Bang, Pacar saya selingkuh, katanya saya kurang kaya,” jawab Asep ragu ragu.

Serentak puluhan mayat tertawa mendengar alasan Asep bunuh diri. Menurut mereka tewas dikeroyok masa karena nyolong ayam atau bahkan mati karena kesetrum pompa air itu masih jauh lebih terhormat dari pada mati bunuh diri karena patah hati.

“Rupanya masih ada saja pemuda bodoh seperti kau? Bodohnya pun keterlaluan, sampai rela mati karena cinta,” lanjut roh lain yang waktu hidupnya adalah seorang ustad.

Disini lah Asep, kembali mengutuk nasibnya. Menghabiskan waktu bertetangga dengan orang mati lainnya, berbasa basi dengan roh yang mati terlebih dahulu, menghabiskan waktu sore berbincang-bicang tentang pengalaman mati dan saat-saat sang malaikat mencabut nyawa mereka. Mendengarkan petuah-petuah tentang bagaimana seharusnya menjalani kematian, atau mendengarkan para roh itu saling mengejek fisik satu sama lain dan bagaimana mereka mati. Tentu saja Asep sang roh patah hati yang mati dengan tubuh menghitam karena menelan setengah liter obat serangga paling sering jadi objeknya.

– Bandung, 2017. Ditulis di pagi hari sambil minum kopi..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *